Saturday, August 6, 2016

Lari, lara pun lari
















Kelahi Diri

Juni di pelipis hati
ada suci yang terganti birahi
pun birahi tanpa pelindung diri

Eksistensi dan setan hegemoni
di kelahi dikebiri
demi bayi dalam rahim ini


Lara itu lari, tapi lirih

Lalu lirih
kau menabur benih
buih


aku lari
nikah sirih


lalu mati



(/frd) 

Saturday, April 9, 2016

Lucah, mereka sebut kami pendosa




Lucah, mereka sebut kami pendosa

Mengendus di pusara pakis
Kami meringis
Kau tersenyum tragis

Dari pasar kembang kau ambil lajur kiri untuk belok ke girilaya
Kau kan temukan kami terlihat melipat paha
Dalam akuarium kaca kami tertawa tak tentu rimba

Lucah, mereka sebut kami pendosa
Padahal kan, Desah kau suka juga
Padahal kan, kami hanya penyemarak barbara

Tua & Muda harga kami tentu berbeda
Pun tergantung tip dari derma sahaja
Demi makan anak kami yang belia


-Seri Peraduan di Kota Pahlawan-
(/frd)

Tuesday, March 22, 2016

Medio-Class


Medio-Class


Menjadi atau tidak menjadi
Kamu adalah anak manusia yang ingin dan akan menjadi

Terbatas atau tidak terbatas

Kamu adalah cucu semesta yang ingin meretas batas



Kamu akan mengatur rencana kerja hidupmu

Kamu ada menjadi manusia yang didogma oleh semesta

Kamu tidak akan pernah menjadi diri kamu sendiri

Kamu bukanlah kamu


Kamu hanyalah anai-anai di sekumpulan  cosmos

Kamu adalah sebutir debu di atmosfir jupiter

Pun sekecil satelit voyager



-Seri Sebuah Kelana Cerita Ibu Kota-
(/frd)

Tuesday, March 1, 2016

Proletariat






 Proletariat

Ada antitesis di setiap nafas hidup
Kaum kusam berusaha tetap berdegup
Kencang atau lambat dalam menunggu maut
Kaum usang terhimpit & adu sikut

Saya ingin mendusta pada semesta
Bahwa untuk hidup kita butuh bahagia
Syahdan, hilir nestapa dan durjana
Mendapatkan tempat di selongsong nyawa kita


Saya ingin seperti Jakarta
Meski dihujat tapi kalian tetap berangkat
Menuju kota dengan sebutan “Kata Kerja”
Mencari derajat juga mendatangi gedung bertingkat

Kita sebatas Dzat yang terbuang
Sebatas daging tak ber-uang
Hanya kaum yang suka tualang
Hanya derum mesin berjuang

Kita, juga bernyawa


-Seri Sebuah Kelana Cerita Ibu Kota-
(frd/)

Sunday, February 28, 2016

Puan Penjaja Belaian





Puan Penjaja Belaian

Derai-berderai gelap menderai
Pendar dan sedikit membantai
Membantai akhir hari
Jauh menjauh imaji

Di gelanggang rasa yang sudah binasa
Puan mesra dengan rokoknya
Menunggu tamunya di ujung jalan Angkasa
Gedung usang itu saksinya

Puan berzirah nafas resah
Melihat Tuan sebagai lahan basah
Rona merah gintju murah
Menarik tuan untuk “bersedekah”


-Seri Sebuah Kelana Cerita Ibu Kota-
(frd/)(2/1)

Tuesday, January 12, 2016

Dari Kenjeran menuju Manukan




Ada yang berpatut mulut di kenjeran
Pun bersungut sungut di padatnya manukan
Ada yang beringsut di trotoar jalanan
Pun merasa takut di pengadilan

Kami rindu teraturmu surabaya
Berharap nafkah di bawah pendar lampu kota
Bertemu pisah di redamnya Juanda
Atau bersenggama manja dengan aspal basah

Dari kenjeran menuju manukan
Terlewati ribuan taman
Juga gedung-gedung mencengangkan
Aaaahhh Surabaya kau memang Jancukan



-Seri Peraduan di Kota Pahlawan-
(/frd)