Sunday, November 22, 2015

Menepilah



 Menepilah



Menepilah di labuhku

Barang seminggu

Atau waktu tak tentu



Menepilah di labuhku

Sekedar sapa temu

Juga melepas setan rindu



Menepilah di labuhku
Di labuhku jangan di hatiku 

(/frd)

Sunday, November 15, 2015

Tentang Pagi



Batara surya.


Tentang pagi yang bermimpi menjadi malam
Tentang imaji yang usang lalu karam
Tentang pagi dan halimun merayu syahdu
Tentang hati yang terbujur kaku
Tentang pagi yang sayu, tentang hati yang membatu

Tentang siang yang membentang
Tentang siang dan silam pukau gedung menjulang
Tentang hati yang menemukan titik terang
Tentang siang yang jalang, tentang hati yang perlahan matang

Tentang sore yang sok asik
Tentang hati yang mulai terusik
Tentang sore yang sok gaul, tentang hati yang mulai tampak-timbul

Tentang malam dan pleidoi alam
Tentang malam sang penghenti aktivitas, tentang hati yang sudah ikhlas




(/frd) Sabtu, 11 April 2015 (04.15 )

Saturday, November 14, 2015

Semua Harus Lurus!!

Bukankah esensi dari kehidupan adalah untuk hidup dan menghidupi manusia dan atau makhluk hidup lain yang terkapar di sesaknya rimba dunia ini?

itu pelangi bernoda biru mdfkr!!!

Pertanyaan kehidupan selalu tertuju pada, sampai kapan kita bertahan dengan keadaan dan peraturan seperti ini? maka judul kehidupan selalu mengarah kepada " Meretas Batas". dimana batas harus di pecahkan, atau paling tidak batas harus dirayakan dengan membebaskan pikiran bebal kita terhadap batas, menjadi sesuatu yang bebas. ya, kata BATAS dan BEBAS memang ber- rima tetapi jauh pula Harfiahnya.

Dalam dunia yang semakin absurd ini, kita dipaksa mengikuti peraturan yang dibuat oleh orang lain. peraturan perusahaan, peraturan atasan, peraturan pasangan kita, peraturan lingkungan sekitar. pembebasan pembebasan pikiran saya rasa penting hukumnya guna menyeimbangkan hidup kita supaya tidak mati rasa, tidak menjadi zombie dunia.

tidak semua yang lurus itu bagus, tidak ayal pula yang putih itu bersih
hidup tak selurus dan seputih itu
tidak semua keinginan harus diperjuangkan,
pun mimpi, dan idealis yang melenakan

Demi Tuhan yang maha mencukupkan
kita layak bahagia dan terbahagiakan.

jakarta, 14/11/15

Saturday, November 7, 2015

Hiatus.

Sudah sekian abad saya tidak menyenggamai lini blog ini, terakhir posting bulan maret tahun lalu.

oke langsung aja ke pokok bahasan, sekarang saya sedang menjamah ibukota, ya, sebuah kota yang selama ini saya acuhkan bahkan terlebih saya caci maki berkat ke semrawutannya. Tapi apalah daya Tuhan memberikan lokasi diklat hati kali ini di belantara ibu kota.

Sejak bulan Juli kemarin saya sudah mengginjakkan dan menetap (semoga untuk sementara waktu) di ibu kota. lambat-laun saya mulai menikmati pengapnya ibu kota kok. ya atas nama ekspedisi sambung nyawa atau diklat hati atau apalah sebutannya yang jelas Jakarta punya warna yang berbeda.















(frd/)