Sunday, July 15, 2018

Tuan Pulang

Tuan kakinya menyilang
Duduk di ujung petang

Tuan ingin pulang dari tualang
Tuan rindu pulang
Tuan pulang

Tuan mengharap belaian
Pulanglah Tuan ke peraduan

Sekian

Sunday, July 8, 2018

Fatwa Lendir


Terlahir dari rahim nyinyir
Kafir, segelas kopi dianggap kafir
Semua melintir dari entengnya bibir
Takut dengan bendera warna warni
Pun bendera merah mereka anggap kiri.

Ini puisi makna ke mana rima di mana
Gak jelas jluntrungannya
Mau nyinyir, tapi nyawa belum betul hadir
Masih ngantuk sambil nyeruput kopi yang kau anggap terkutuk

Balik ke fatwa lendir
Ormas hadir
Teriak bunuh si kafir
Haha
Padahal, bisnis lendir kau hadir pun kau sindir

satir

(/frd)

Sunday, April 22, 2018

People Come and Go

People come and Go

All I need is slow
Through thins kind of flow
Following this life row

People come and go
One two three and four
countless till we eated by crow
people come and go


We're so lonely indeed
But we have to give what we just did
Instead of cry under the sheet.

(/frd)

Thursday, March 15, 2018

Puan Penjual Belaian 2.0



Transaksi sebagai janji
Jalanan teman sejati
Asap kopaja juga metromini
Menusuk hidung membentuk daki

Derai peluh dari penggapnya kota
Sedikit perih menghapus nelangsa
Derai peluh dari sesaknya tindihan
Sedikit nagih kantong tebal tuan

Saturday, April 15, 2017

Kontemplasi Hidup di Pinggiran Ibu kota



Kontemplasi Hidup di Pinggiran Ibu kota

Ketika beribadat masih harus dijaga ketat
Ketika orientasi seksual masih dianggap penyakit menular
Ketika gangguan kejiwaan masih dianggap lebay/kurang iman
Ketika bersedekah masih bertujuan menjauhi neraka

Ketika wanita masih dianggap ojek belaka
Ketika suaka ada pada mereka yang jumawa

Ketika peradaban dinilai dari gedung yang menjulang
Ketika Jakarta tak bernyawa, Pertiwi tak berhati

Perlukah Saya optimis untuk masa depan Indonesia?
Perlukah Saya optimis untuk masa depan Indonesia?
Perlukah Saya optimis untuk masa depan Indonesia?
Perlukah Saya optimis untuk masa depan Indonesia?

Jakarta, 15 April 2017

Sunday, January 8, 2017

Mengingat Zaman dari Album Zaman, Zaman

a Review of Zaman,zaman by The Trees and The Wild
 
Band syahdu yang satu ini mungkin tidak asing lagi di kalangan penikmat band-band sidestream di tanah air. Namanya yang membumi di tahun 2009 karena telah menelurkan albumnya bertajuk Rasuk beberapa tahun silam. Selepas album rasuk, lantas kita mengira-ngira kapan band berdomisili di Jakarta akan melahirkan album baru. Kabar baik itupun hadir dipertengahan tahun 2016 ketika band ini mengumumkan akan merilis album baru. it's really costs 7 years for brand new album ?
Dengan tajuk Zaman, Zaman, band ini mencoba kembali melakukan penetrasi pasar kembali. Setelah menamatinya selama 2 minggu, ditemani spotify dan headset sennheiser mx375 (fardhu ain diberitakan, nantinya Saya buat review headset). Saya akan mencoba membahas keseluruhan album ini. Dibekali 7 lagu dengan durasi album keseluruhan 57 menit, bait demi bait lagunya musti ditamati denngan serius untuk Saya yang mengira album kali ini sekedar mini album mengingat jumlah lagunya yang hanya 7 biji.
Berikut saya ulas lagu-per-lagu dari album "Zaman, Zaman"

Zaman, Zaman
Menu pembuka yang "ahelah enaq bet dah". eksperimental suara yang seperti membawa alam bawah sadar kita ke luar angkasa.

Empati Tamako
"terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya" entah berapa kali satu baris kalimat dari lirik ini yang diulang dan terus diulang dilagu ini. cukup menganestesi alam bawah sadar kita dan jelas dari album ini kita tak perlu terlalu serius menghafalkan liriknya. beat yang meninggi di akhir lagu membuat lagu ini memberika efek orgasmic di pendengarnya, klimaks!

Srangan
Salah-salah bisa tertidur jika dengerin lagu ini, alunan mendayu dan timbre kecil yang empuk didengarkan sambil tiduran. lagu berdurasi 2.54 ini, seperti menjadi bridging untuk lagu berikutnya.

Monumen
Pukulan keras drum cukup mengagetkan Saya, masih dengan lirik yang harus didengarkan dengan seksama untuk dicerna. Ambience lagu ini sukses membuat saya bergoyang-goyang "manja". Repetisi pukulan drum yang tanpa jeda, semacam anestesi

Tuah/Sebak
Berkali kali perut eh otak Saya mengira judul lagu ini adalah Tuak/Seblak. Sampai sekarang saya masih belum bisa mencerna makna dibalik lagu ini. berdurasi pas 10 menit tak akan terasa lama untuk mendengarkan lagu yang rilis prematur sebelum album Zaman, zaman ini. menurut saya lagu ini menjadi titik klimaks dari Zaman, Zaman. (Tips yahud dengerin lagu ini; merem sambil angguk-angguk.)

Roulements
bridging song, lagi-lagi lagu berdurasi  2 menit 57 detik ini hanyalah berisikat partikel-partikel suara entah berantah yang cukup membius.

Saija
Pamungkas di album ini, sayup-sayup seperti sekumpulan orang chanting. Dengan musik yang eksperimental, semakin yakin saya menasbihkan album ini membius pendengarnya. berdurasi 8 menitan lagu ini seperti dibagi menjadi beberapa part. Eh tapi ada juga yang bilang "iki ngono lagu opo (ini tuh lagu macam apa)" ketika ada yang Saya cekokin lagu ini.

Keseluruhan album ini cukup asyik dinikmati menjadi teman macet, bekerja atau bahkan bersemedi malam-malam di dalam kamar. it sounds like a chant, mengingat repetisi musik dan melodia yang digarap syahdu dan ciamik. Lirik-lirik dalam album ini juga cukup membuat Saya mengernyitkan dahi tatkala mendengarnya. Tak lugas, namun tak juga gamblang maknanya, kesan itulah yang Saya tangkap dari keseluruhan album ini.


Satu kata untuk album ini; "Membius".

iTunes : https://t.co/PvYPCvXB9y

Oleh : Farid Afyudin


Saturday, August 6, 2016

Lari, lara pun lari
















Kelahi Diri

Juni di pelipis hati
ada suci yang terganti birahi
pun birahi tanpa pelindung diri

Eksistensi dan setan hegemoni
di kelahi dikebiri
demi bayi dalam rahim ini


Lara itu lari, tapi lirih

Lalu lirih
kau menabur benih
buih


aku lari
nikah sirih


lalu mati



(/frd)