Saturday, April 15, 2017

Kontemplasi Hidup di Pinggiran Ibu kota



Kontemplasi Hidup di Pinggiran Ibu kota

Ketika beribadat masih harus dijaga ketat
Ketika orientasi seksual masih dianggap penyakit menular
Ketika gangguan kejiwaan masih dianggap lebay/kurang iman
Ketika bersedekah masih bertujuan menjauhi neraka

Ketika wanita masih dianggap ojek belaka
Ketika suaka ada pada mereka yang jumawa

Ketika peradaban dinilai dari gedung yang menjulang
Ketika Jakarta tak bernyawa, Pertiwi tak berhati

Perlukah Saya optimis untuk masa depan Indonesia?
Perlukah Saya optimis untuk masa depan Indonesia?
Perlukah Saya optimis untuk masa depan Indonesia?
Perlukah Saya optimis untuk masa depan Indonesia?

Jakarta, 15 April 2017

Sunday, January 8, 2017

Mengingat Zaman dari Album Zaman, Zaman

a Review of Zaman,zaman by The Trees and The Wild
 
Band syahdu yang satu ini mungkin tidak asing lagi di kalangan penikmat band-band sidestream di tanah air. Namanya yang membumi di tahun 2009 karena telah menelurkan albumnya bertajuk Rasuk beberapa tahun silam. Selepas album rasuk, lantas kita mengira-ngira kapan band berdomisili di Jakarta akan melahirkan album baru. Kabar baik itupun hadir dipertengahan tahun 2016 ketika band ini mengumumkan akan merilis album baru. it's really costs 7 years for brand new album ?
Dengan tajuk Zaman, Zaman, band ini mencoba kembali melakukan penetrasi pasar kembali. Setelah menamatinya selama 2 minggu, ditemani spotify dan headset sennheiser mx375 (fardhu ain diberitakan, nantinya Saya buat review headset). Saya akan mencoba membahas keseluruhan album ini. Dibekali 7 lagu dengan durasi album keseluruhan 57 menit, bait demi bait lagunya musti ditamati denngan serius untuk Saya yang mengira album kali ini sekedar mini album mengingat jumlah lagunya yang hanya 7 biji.
Berikut saya ulas lagu-per-lagu dari album "Zaman, Zaman"

Zaman, Zaman
Menu pembuka yang "ahelah enaq bet dah". eksperimental suara yang seperti membawa alam bawah sadar kita ke luar angkasa.

Empati Tamako
"terang yang kau dambakan, hilanglah semua yang kau tanya" entah berapa kali satu baris kalimat dari lirik ini yang diulang dan terus diulang dilagu ini. cukup menganestesi alam bawah sadar kita dan jelas dari album ini kita tak perlu terlalu serius menghafalkan liriknya. beat yang meninggi di akhir lagu membuat lagu ini memberika efek orgasmic di pendengarnya, klimaks!

Srangan
Salah-salah bisa tertidur jika dengerin lagu ini, alunan mendayu dan timbre kecil yang empuk didengarkan sambil tiduran. lagu berdurasi 2.54 ini, seperti menjadi bridging untuk lagu berikutnya.

Monumen
Pukulan keras drum cukup mengagetkan Saya, masih dengan lirik yang harus didengarkan dengan seksama untuk dicerna. Ambience lagu ini sukses membuat saya bergoyang-goyang "manja". Repetisi pukulan drum yang tanpa jeda, semacam anestesi

Tuah/Sebak
Berkali kali perut eh otak Saya mengira judul lagu ini adalah Tuak/Seblak. Sampai sekarang saya masih belum bisa mencerna makna dibalik lagu ini. berdurasi pas 10 menit tak akan terasa lama untuk mendengarkan lagu yang rilis prematur sebelum album Zaman, zaman ini. menurut saya lagu ini menjadi titik klimaks dari Zaman, Zaman. (Tips yahud dengerin lagu ini; merem sambil angguk-angguk.)

Roulements
bridging song, lagi-lagi lagu berdurasi  2 menit 57 detik ini hanyalah berisikat partikel-partikel suara entah berantah yang cukup membius.

Saija
Pamungkas di album ini, sayup-sayup seperti sekumpulan orang chanting. Dengan musik yang eksperimental, semakin yakin saya menasbihkan album ini membius pendengarnya. berdurasi 8 menitan lagu ini seperti dibagi menjadi beberapa part. Eh tapi ada juga yang bilang "iki ngono lagu opo (ini tuh lagu macam apa)" ketika ada yang Saya cekokin lagu ini.

Keseluruhan album ini cukup asyik dinikmati menjadi teman macet, bekerja atau bahkan bersemedi malam-malam di dalam kamar. it sounds like a chant, mengingat repetisi musik dan melodia yang digarap syahdu dan ciamik. Lirik-lirik dalam album ini juga cukup membuat Saya mengernyitkan dahi tatkala mendengarnya. Tak lugas, namun tak juga gamblang maknanya, kesan itulah yang Saya tangkap dari keseluruhan album ini.


Satu kata untuk album ini; "Membius".

iTunes : https://t.co/PvYPCvXB9y

Oleh : Farid Afyudin


Saturday, August 6, 2016

Lari, lara pun lari
















Kelahi Diri

Juni di pelipis hati
ada suci yang terganti birahi
pun birahi tanpa pelindung diri

Eksistensi dan setan hegemoni
di kelahi dikebiri
demi bayi dalam rahim ini


Lara itu lari, tapi lirih

Lalu lirih
kau menabur benih
buih


aku lari
nikah sirih


lalu mati



(/frd) 

Saturday, April 9, 2016

Lucah, mereka sebut kami pendosa




Lucah, mereka sebut kami pendosa

Mengendus di pusara pakis
Kami meringis
Kau tersenyum tragis

Dari pasar kembang kau ambil lajur kiri untuk belok ke girilaya
Kau kan temukan kami terlihat melipat paha
Dalam akuarium kaca kami tertawa tak tentu rimba

Lucah, mereka sebut kami pendosa
Padahal kan, Desah kau suka juga
Padahal kan, kami hanya penyemarak barbara

Tua & Muda harga kami tentu berbeda
Pun tergantung tip dari derma sahaja
Demi makan anak kami yang belia


-Seri Peraduan di Kota Pahlawan-
(/frd)

Tuesday, March 22, 2016

Medio-Class


Medio-Class


Menjadi atau tidak menjadi
Kamu adalah anak manusia yang ingin dan akan menjadi

Terbatas atau tidak terbatas

Kamu adalah cucu semesta yang ingin meretas batas



Kamu akan mengatur rencana kerja hidupmu

Kamu ada menjadi manusia yang didogma oleh semesta

Kamu tidak akan pernah menjadi diri kamu sendiri

Kamu bukanlah kamu


Kamu hanyalah anai-anai di sekumpulan  cosmos

Kamu adalah sebutir debu di atmosfir jupiter

Pun sekecil satelit voyager



-Seri Sebuah Kelana Cerita Ibu Kota-
(/frd)

Tuesday, March 1, 2016

Proletariat






 Proletariat

Ada antitesis di setiap nafas hidup
Kaum kusam berusaha tetap berdegup
Kencang atau lambat dalam menunggu maut
Kaum usang terhimpit & adu sikut

Saya ingin mendusta pada semesta
Bahwa untuk hidup kita butuh bahagia
Syahdan, hilir nestapa dan durjana
Mendapatkan tempat di selongsong nyawa kita


Saya ingin seperti Jakarta
Meski dihujat tapi kalian tetap berangkat
Menuju kota dengan sebutan “Kata Kerja”
Mencari derajat juga mendatangi gedung bertingkat

Kita sebatas Dzat yang terbuang
Sebatas daging tak ber-uang
Hanya kaum yang suka tualang
Hanya derum mesin berjuang

Kita, juga bernyawa


-Seri Sebuah Kelana Cerita Ibu Kota-
(frd/)

Sunday, February 28, 2016

Puan Penjaja Belaian





Puan Penjaja Belaian

Derai-berderai gelap menderai
Pendar dan sedikit membantai
Membantai akhir hari
Jauh menjauh imaji

Di gelanggang rasa yang sudah binasa
Puan mesra dengan rokoknya
Menunggu tamunya di ujung jalan Angkasa
Gedung usang itu saksinya

Puan berzirah nafas resah
Melihat Tuan sebagai lahan basah
Rona merah gintju murah
Menarik tuan untuk “bersedekah”


-Seri Sebuah Kelana Cerita Ibu Kota-
(frd/)(2/1)